Tuesday, September 22, 2015

Baim Itu Nama Ketika Saya Ikut OPAK

Sampai saat ini ternyata masih banyak orang yang suka bingung dan heran ketika ada yang memanggil saya dengan sebutan Baim. Ya, itu karena nama lengkap saya adalah Bahrul Ilmi, jadi mereka yang sudah lama mengenal saya lebih terbiasa memanggil saya dengan Bahrul, Ilmi, Mi, Rul, atau yang lainnya. Sedangkan mereka yang baru mengenal saya sejak kuliah pada 2013 lalu, akan lebih akrab dengan nama Baim tadi. Membahas tentang nama itu, saya jadi teringat dengan masa beberapa tahun lalu ketika saya menjadi seorang mahasiswa baru.

Baim Itu Nama Ketika Saya Ikut OPAK
Kelompok OPAK IAIN Pontianak 2013 via Bahrul Ilmi - Facebook
Saat ini saya merupakan mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan sekarang sedang mengambil konsentrasi broadcasting atau penyiaran. Sama seperti yang telah dialami oleh para mahasiswa baru IAIN Pontianak angkatan 2015, kurang lebih sekitar dua tahun lalu saya juga pernah mengikuti ospek, di kampus kita mengenalnya dengan sebutan OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan). Dan pada masa-masa itulah saya mulai akrab dipanggil sebagai Baim.

Nama Baim sendiri sebenarnya sudah saya gunakan jauh sebelum saya menjadi seorang mahasiswa. Nama itu merupakan singkatan dari nama saya sendiri yang jika ditulis menjadi BAhrul IlMi, sebuah singkatan yang entah bagaimana cara saya merangkainya pada saat masih SMP dulu, yang saya ingat kala itu teman-teman seumuran saya sedang suka-sukanya mengganti nama mereka dengan nama-nama yang mereka anggap gaul dan kerena pada masa itu. Saya sendiri lebih senang menyingkat nama lengkap saya, dan jadilah Baim.

Ketika pelaksanaan OPAK 2013, setiap peserta diminta oleh panitia untuk membuat papan nama dan huruf yang digunakan hanya dibatasi lima karakter saja. Di saat peserta lain banyak yang kebingungan menentukan lima huruf dari nama mereka, saya sudah mendapatkannya lebih dulu. Saya memutuskan untuk menggunakan nama Baim selama OPAK berlangsung. Karena peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, jadi hanya teman-teman di kelompok saya dan mentor saja yang tahu saya menggunakan nama itu.

Namun seiring berjalannya waktu dan aktifitas yang dilakukan selama OPAK, banyak yang mengajak untuk berkenalan dan menanyakan nama saya siapa. Karena saat itu saya menggunakan papan nama yang bertuliskan BAIM, maka tanpa perlu menunggu jawaban langsung dari saya kebanyakan dari mereka (para peserta OPAK) memanggil saya dengan nama itu. Hal tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang. Bahkan keluarga di rumah juga sempat heran ketika ada teman kuliah yang datang ke rumah dan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu saya dengan mengatakan, “Baim nya ada bu?”. Tapi setelah dijelaskan, keluarga di rumah sudah biasa-biasa saja.

Meski lebih akrab disapa Baim ketika di kampus, masih ada juga yang memanggil saya dengan nama Bahrul, Ilmi dan nama panggilan lainnya. Saya tidak mempermasalahkan panggilan apa yang akan digunakan kepada saya, selama nama itu baik, mudah diingat dan saya ketahui, saya oke-oke saja. Yaa daripada ketika bertemu di jalan kita hanya bisa saling tersenyum lalu pergi? Bagi yang tidak saling menganl mungkin itu biasa, tapi bagi yang sudah saling mengenal pasti akan terasa sedikit aneh.

Jadi, kamu mau panggil saya apa?

2 komentar

Wah baru tau saya opak keanjangan itu, kirain makanan loh awal2 saya denger kata opak


EmoticonEmoticon